|
Isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya merupakan empat isu yang terkait erat seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi. Keempat ranah tersebut menjadi menarik untuk dibahas karena sifatnya yang dinamis dan tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Perkembangan media dan teknologi mulai dari media cetak, telepon seluler, internet, hingga era konvergensi media menunjukkan isu yang berbeda di keempat aspek tersebut. Berikut saya jelaskan masing-masing isu dalam kaitannya dengan teknologi komunikasi. Isu politik terkait erat dengan konsep kekuasaan dan pengaruh. Dalam mendefinisikan istilah politik, Prof. Miriam Budiardjo menyimpulkan lima konsep pokok yang terkait yaitu: negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan pembagian (distribution) atau alokasi (allocation) (Budiardjo, 2008: 17). Akan tetapi, banyak pakar yang melihat kekuasaan adalah inti dari politik karena politik dianggap sebagai kegiatan yang menyangkut perebutan dan pertahanan kekuasaan. “Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk memengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku”. Sementara itu, pengaruh merupakan suatu bentuk yang kurang efektif dibanding kekuasaan, tetapi mengandung unsur psikologis dan menyentuh hati (Ibid.) Dalam konsep perkembangan teknologi komunikasi, media seringkali digunakan oleh banyak pihak untuk memperluas kekuasaan dan pengaruh mereka. Di tahun 2009, saat kampanye pemilihan umum sedang berlangsung, dapat kita saksikan ada begitu banyak wajah calon legislatif dan juga calon presiden dan wakil presiden yang menghiasi media cetak dan elektronik untuk meraih simpati pemilih. Sebagian partai politik bahkan telah menganggarkan miliaran rupiah untuk menampilkan iklan-iklan kampanye politik di layar kaca. Semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan: Kekuasaan. Contoh lain yang menarik untuk diperhatikan adalah kejelian Barack Obama menggunakan media tertentu untuk memenangkan pemilihan presiden Amerika. Jika John F. Kennedy merupakan presiden Amerika pertama yang menggunakan televisi dalam menyebarkan kekuasaannya, maka Barack Obama merupakan presiden Amerika pertama yang menggunakan Facebook untuk mendukung kemenangannya. Akun Facebook yang dibuat secara gratis dapat dimanfaatkan oleh tim kampanyenya untuk mengumpulkan dana, melaporkan perkembangan kampanye, atau sekadar update status untuk menarik hati para pendukungnya. Dengan memaksimalkan akun facebooknya, Obama berhasil memperoleh dana kampanye US$ 659,7 juta. Bandingkan dengan rivalnya John McCain yang “hanya” US$ 238,1 juta. Jika kita kaitkan dengan perspektif payung teknologi komunikasi, sistem politik tidak dapat dipisahkan dengan sistem media suatu negara (Grant, 2004). Sistem media suatu negara sangat bergantung dengan sistem politiknya. Jika negaranya menganut paham otoritarian, maka media/pers akan lebih terbatas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Sebaliknya, jika suatu negara menganut paham yang liberal, maka media/pers akan bersikap lebih bebas. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Freedom House di Washington, Amerika Serikat, Indonesia masuk dalam kategori hijau yang berarti terdapat kebebasan (media) yang sangat baik. Isu ekonomi terkait dengan inti dari masalah ekonomi, yaitu kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan barang pemuas kebutuhan yang terbatas. Masalah kelangkaan dan akses terhadap barang dan jasa semakin jelas pengaruhnya dalam perkembangan media dan teknologi. Semakin canggih media yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan seseorang untuk memperoleh barang dan jasa. Dengan kehadiran internet dan berbagai situs jejaring sosial, baik konsumen, distributor, maupun produsen menjadi semakin dimudahkan. Menjamurnya online shopping di internet sudah barang tentu mempermudah banyak orang untuk melakukan transaksi finansial. Cukup dengan beberapa klik, barang akan dibuat, dikirim, dan dapat langsung digunakan. Dalam perspektif payung teknologi komunikasi, terlihat juga bagaimana sistem media memiliki pengaruh yang erat dengan sistem ekonomi suatu negara. Negara dengan sistem ekonomi kapitalis akan lebih memudahkan para pemilik modal untuk membangun berbagai industri media dan teknologi komunikasi. Sebaliknya, negara dengan sistem ekonomi sosialis akan lebih mempersulit dibangunnya industri media dan teknologi komunikasi. Perusahaan media dikuasai oleh negara yang hanya berisikan segala sesuatu yang sesuai dengan kepentingan penguasa. Isu ekonomi lain yang muncul adalah media dan teknologi komunikasi digunakan untuk memonopoli perdagangan dan aktivitas ekonomi. Para pemodal besar menguasai pasar media serta melarang adanya pemain baru untuk terjun berkompetisi dalam industri media. Perusahaan multinasional dan transnasional membuka cabang-cabang baru di berbagai belahan dunia dengan membawa berbagai sumber daya dari negara sendiri yang menutup kesempatan bagi para pemain di sektor yang lebih kecil dan industri-industri terkait karena semuanya ditangani langsung oleh perusahaan pusat. Isu menarik lain yaitu terjadinya interlocking directorance di beberapa perusahaan. Perusahaan-perusahaan saling bersaing untuk memperebutkan direktur berkualitas untuk memimpin perusahaan mereka dengan memberikan berbagai fasilitas. Hal ini sempat menuai kontroversi saat krisis Amerika, karena dana talangan yang dikeluarkan oleh pemerintah kepada berbagai lembaga keuangan justru digunakan untuk memanjakan direktur mereka dengan fasilitas mewah. Hal ini dilakukan karena perusahaan tersebut takut direktur mereka berpindah ke tempat lain sementara mereka masih membutuhkan bantuan untuk memulihkan keadaan. Sementara itu, kebudayaan terkait erat dengan tujuh unsur kebudayaan. Unsur-unsur kebudayaan tersebut adalah: peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi (Kluckhon, 1953). Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat (Soemardjan dan Soemardi, 1964: 115). Jadi, semua teknologi yang diciptakan oleh manusia merupakan suatu kebudayaan. Selain itu, perkembangan teknologi telah mengubah unsur-unsur kebudayaan manusia. Misalnya, bahasa. Seiring dengan meluasnya penggunaan internet, muncul kosa kata baru yang dahulu sudah ada tetapi tidak lazim digunakan, seperti online, chatting, browsing, dll. Ada pula fenomena bahasa alay (anak layangan) yang seringkali dikategorikan dengan mengetik SMS dengan menggunakan kombinasi huruf besar dan kecil. Dalam hal peralatan hidup manusia, telepon seluler sudah tidak lagi menjadi barang yang mewah. Hampir setiap orang sekarang mampu untuk membeli telepon seluler, bahkan dengan fasilitas internet. Akan tetapi, ada suatu hal yang terkait dengan penggunaan telepon seluler sebagai budaya. Telepon seluler seperti telah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak orang merasa santai saja jika kehilangan atau ketinggalan uang, dompet, buku, atau benda lain. Tetapi, jika ketinggalan telepon seluler, mereka akan rela kembali, bahkan menembus kemacetan, untuk sekadar mengambilnya. Hal ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan komunikasi dan tetap terhubung menjadi sangat penting saat ini. Isu terakhir yaitu tentang isu sosial. Isu sosial terkait dengan pola interaksi dan komunikasi yang terjadi seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi. Perkembangan media dan teknologi telah melintasi batas ruang, jarak, dan waktu. Dahulu untuk mengucapkan “Selamat Tahun Baru”, banyak orang rela untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga dan saling bersalam-salaman. Setelah itu, ucapan selamat dapat dikirimkan lewat pos. Setelah penemuan telepon, orang-orang cukup menekan nomor tujuan dan mengucapkan selamat secara langsung. Selanjutnya, berkirim surat pun dapat dilakukan dengan surat elektronik. Yang paling umum saat ini yaitu mengucapkan selamat lewat SMS karena paling dianggap efektif dan efisien. Dan yang tercanggih pada saat ini yaitu melalui video conference sehingga dapat bertukar suara dan bertatap muka. Dari perkembangan teknologi komunikasi ini dapat dilihat bagaimana interaksi dan komunikasi antar manusia dapat “diakali” tanpa mengabaikan elemen-elemen komunikasi yaitu sumber (source), pesan (message), media (channel), penerima (receiver), efek (effect). |